Skip to content

Analisa Media: Setengah Hati Mendukung RUU BPJS

October 10, 2011

Analisa Media: Setengah Hati Mendukung RUU BPJS

oleh Kahar S. Cahyono pada 10 Oktober 2011 jam 15:59

Sehari setelah aksi yang dilakukan Komite Aksi Jaminan Sosial di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kementerian Keuangan, saya mencari berita tentang aksi tersebut di Kompas. Setelah beberapa kali membolak-balik halaman, tetap saja saya tidak berhasil menemukan berita itu. Mungkin saya salah melihat, tetapi seorang kawan kemudian mengkonfirmasi bahwa Kompas cetak tidak memberitakan aksi tersebut. Mengapa? Ini pertanyaan yang harus dicari jawabnya.

Media cetak lain, terus terang saja, saya tidak tahu. Apakah memberitakan aksi ini dengan porsi yang memadai, atau sebaliknya. Sebab di sekretariat hanya berlangganan 2 koran, nasional dan lokal. Koran lokal, yang terbit di bawah naungan Jawa Pos Group, juga tidak memberitakan tentang aksi itu. Terhadap koran lokal ini, saya bisa memahami. Meski menyediakan rubrik nasional, media ini memang dikhususkan untuk provinsi Banten.

Saya pun melakukan penelusuran atas pemberitaan aksi di BEI dan Kemenkeu dari internet. Khususnya di Media Online, berita tentang aksi KAJS tanggal 6 Oktober itu memang banyak kita jumpai. Beberapa memberitakan aksi itu secara proporsional. Ada informasi yang jelas, mengapa RUU BPJS yang saat ini tengah diperjuangkan oleh KAJS penting bagi rakyat Indonesia. Beberapa memang terkesan sinis dan setengah hati memberitakan aksi kali ini.

Mengapa Analisa Media Menjadi Penting?

Berawal dari sana, saya mencoba untuk melakukan analisa media. Tentu apa yang saya lakukan ini tidak sempurna, dan saya tidak akan minta maaf terhadap itu. Sebab akan menjadi lebih baik, jika Anda pun ikut menyempurnakannya.

Kita paham, media massa sangat berperan dalam membentuk opini publik. Satu hal yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Bahkan, ia menjadi salah satu strategi yang harus kita fikirkan, untuk memperbesar peluang tercapainya cita-cita perjuangan.  Itulah sebabnya, penting bagi kita untuk  mengetahui media mana saja yang turut memberitakan aksi tersebut, dan sekaligus mengukur kekuatan dan kelemahan pemberitaan yang dilakukan media terhadap setiap aksi yang kita lakukan. Ini misalnya, bisa dilakukan dengan melihat seberapa banyak tulisan yang dibuat, letak tulisan (mudah dalam pencarian), akurasi informasi yang disampaikan, dan sekaligus seberapa besar jangkauan pembaca dari media yang bersangkutan.

Menelusuri Pemberitaan Media

Seperti yang saya sampaikan di awal, saya tidak melakukan analisa terhadap media cetak. Analisa ini hanya mengandalkan penelusuran terhadap beberapa media online yang dianggap memiliki jangkauan pembaca luas. Juga 2 televisi, SCTV dan Metro TV. Saya kira, dari sini kita sudah bisa melihat sebuah benang merah, bagaimana media ikut mewarnai perjuangan jaminan sosial di Indonesia.

Media Televisi

SCTV

SCTV menurunkan berita yang berjudul ‘Massa Gelar Demo BPJS di Gedung BEI’.  Dalam pemberitaan ini menyebut pelaksana aksi adalah KAJS dan juga memberitakan tuntutan KAJS, bahwa RUU BPJS segera disahkan. Disamping itu, SCTV juga menayangkan berita berjudul ‘Demo BPJS Berlangsung Ricuh’. Di berita ini, mereka menyebut aksi dilakukan oleh FSPMI. Menyebut kata kunci: RUU BPJS, keributan, dan ricuh.

Metro TV

Sementara itu, Metro TV menurunkan berita yang berjudul ‘Unjuk Rasa Buruh di BEI Ricuh’. Dalam berita ini tidak disebutkan secara spesifik, siapa pelaksana aksi. Kata-kata kunci yang disebut dalam berita ini adalah: RUU BPJS, anti masuk angin, ricuh, dan keributan.

Analisa:

Dari dua media televisi ini, kita bisa menilai bahwa media belum memahami (atau pura-pura tidak memahami), siapa sesungguhnya pelaksana aksi di BEI kali ini. SCTV, misalnya, dalam salah satu beritanya salah dalam menyebutkan siapa pelaksana aksi. Disana disebutkan aksi dilakukan oleh FSPMI, padahal yang melakukan aksi tersebut adalah KAJS. Sementara Metro TV malah tidak menyebutkan secara spesifik siapa yang melakukan aksi ini.

Sudut pandang pemberitaan pun, juga tentang kericuhan yang terjadi. Tidak melihat secara langsung apa yang ditayangan kedua media televisi ini,  kita tahu ini adalah untuk memberitakan tentang kericuhan. Dalam judulnya saja, kata-kata ‘ricuh’ digunakan oleh kedua media ini.

Aksi teatrikal yang dilakukan oleh peserta, ternyata mampu mencuri perhatian media. Ini misalnya, terlihat masuknya kata kunci ‘obat anti masuk angin’ yang disimbolkan untuk wakil rakyat dan pemerintah yang suka masuk angin ketika bersidang RUU BPJS.

Media Online 

DetikNews
Berbagai pemberitaan yang berhasil dihimpun dari Detiknews antara lain:

  • Demo di Depan BEI Macetkan Kawasan Sudirman; (Kamis, 06/10/2011, jam 12:42 WIB). Kata kunci: pekerja metal, macet (disebut 3).

 

  • Pendemo di Depan BEI Long March, Macet di Sudirman Semakin Menjadi; (Kamis, 06/10/2011, jam 13:16 WIB). Kata kunci: pekerja metal, macet (disebut 3).  
  • Demo di Depan BEI, Kemacetan Hingga Bundaran HI. (Kamis, 06/10/2011, jam 13:21 WIB), Kata kunci: pekerja metal, macet (disebut 2),

  • Ribuan Demonstran Bergerak ke Kemenkeu Minta RUU BPJS Disahkan. (Kamis, 06/10/2011, jam 13:21 WIB). Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, macet.

  • 200 Orang Demo di Kemenkeu Minta RUU BPJS Disahkan, Lalin Macet. (Kamis, 06/10/2011, jam 15:04 WIB). Kata Kunci: KAJS, RUU BPJS, macet.

Analisa:

Hampir seluruh berita yang diturunkan oleh Detiknews adalah tentang kemacetan yang diakibatkan oleh aksi ini. Dari 5 judul berita yang ada, 4 diantaranya menggunakan kata-kata macet, dan semuanya memberitakan tentang kemacetan. Jika dihitung, setidaknya ada 10 kata-kata ‘macet’ bertaburan dalam berita yang mereka turunkan.

Ironisnya, hanya 2 dari 5 berita tersebut yang memberitakan bahwa maksud dari aksi ini adalah untuk mendukung disahkannya RUU BPJS. Detiknews juga salah dalam menyebutkan peserta aksi, yaitu pekerja metal.

Vivanews

  • Buruh Metal Demo BPJS di Gedung Bursa (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 11:05 WIB). Kata kunci: FSPMI, KAJS, BPJS, bertelanjang dada, hambatan lalu lintas, 

  • Demo BPJS, Jalan Sudirman Macet Panjang (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 11:58 WIB). Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, saling dorong, ricuh (disebut 2 kali), macet)

                

  • Ribuan Orang Ancam Bertahan di Kemenkeu (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 14:59 WIB). Kata kunci: RUU BPJS, FSPMI, KAJS, macet (disebut 2 kali) 

  • Ribuan Buruh Ancam Kepung DPR (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 16:07 WIB), Kata kunci:  FSPMI, RUU BPJS, jaminan sosial, menguraikan pentingnya BPJS, pelayanan kesejatan tanpa diskriminasi, 

  • Buruh Metal Demo BPJS di Gedung Bursa (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 14:48 WIB). Foto-foto teatrikal

  • FOTO: Aksi Unjuk Rasa Tuntut BPJS (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 15:25 WIB). Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, teatrikal, macet

Analisa:

Sedikitnya saya menemukan 6 berita di Vivanews terkait dengan aksi yang dilakukan oleh KAJS pada tanggal 6 Oktober. Meski tidak se-‘sinis’ Detiknews, seluruh pemberitaan di Vivanews menyebutkan bahwa aksi ini menyebabkan kemacetan lalu lintas. Bahkan, ada yang menyebutkan kata ‘macet’ hingga 2 kali, dalam 1 berita. Dari 6 berita yang ada, hanya ada 1 berita yang tidak mengandung kata ’macet’, yaitu berita yang berjudul ‘Buruh Demo BPJS di Gedung Bursa’, itu pun karena ini adalah judul untuk berita foto.

Beberapa berita di Vivanews juga menyebutkan bahwa aksi ini dilakukan oleh FSPMI. Sebagian yang lain dikatakan FSPMI dan KAJS (seolah FSPMI dan KAJS adalah dua hal yang berbeda), meski ada satu berita yang menyebut bahwa aksi ini dilakukan oleh KAJS.

Meskipun begitu, berita-berita di Vivanews menyebutkan informasi terkait dengan RUU BPJS dengan cukup berimbang. Misalnya pada berita yang berjudul ’Ribuan Buruh Ancam Kepung DPR’, disana diinformasikan tentang tujuan aksi ini untuk mendesak agar RUU BPJS segera disahkan, juga memberikan penjelasan tentang pentingnya BPJS, misalnya terkait dengan pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi.

Aksi simpatik yang berhasil mencuri perhatian Vivanews adalah aksi berbaring dengan telanjang dan teatrikal yang dilakukan oleh peserta aksi.

Kompas.Com

  • KAJS Unjuk Rasa di Bursa Efek Indonesia. Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, arus lalu lintas tersendat,

  • Naikkan Bendera, Aksi di Depan BEI Sempat Ricuh (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 11:46 WIB). Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, ricuh (disebut 2 kali)

  • Unjuk Rasa KAJS Memanas (Kamis, 6 Oktober 2011, jam 12:00 WIB). Kata kunci: FSPMI, KAJS, bentrok, RUU BPJS.

  • KAJS: Jangan Tunda Pengesahan RUU BPJS. Kata kunci: KAJS, RUU BPJS,

  • KAJS Unjuk Rasa di Bursa Efek Indonesia. Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, arus lalu lintas tersendat,

  • Dari BEI, Massa KAJS Akan Bergerak ke Kemkeu. Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, bus-bus berjalan perlahan

 
Analisa:

Jika Detiknews dan Vivanews menekankan pada kemacetan akibat aksi, Kompas.com lebih menekankan pada kericuhan yang terjadi. Hal ini terlihat pada berita yang berjudul ’Naikkan Bendera, Aksi di Depan BEI Sempat Ricuh’ dan ’Unjuk Rasa KAJS Memanas.’ Dalam berita di Kompas.com tidak kita jumpai kata-kata ’macet’, namun ia menggantinya dengan kata-kata seperti ’arus lalu lintas tersendat’ (disebut 2 kali dalam 2 berita), dan ’bus-bus berjalan perlahan.’

Perbedaan lain dengan dua media online sebelumnya, Kompas.com dengan benar menyebut bahwa aksi kali ini dilakukan oleh KAJS. Ini terlihat dengan jelas, jika kita mencermati judul-judul berita yang tayang di sana. 5 dari 6 berita, menyebutkan kata KAJS. Satu hal yang bisa jadi membutikan, bahwa Kompas.com sangat mengenal betul siapa KAJS sesungguhnya. (Inilah yang kemudian menjadi pertanyaan besar, mengapa Kompas cetak tidak memberitakan aksi ini?)

Hal lain yang menarik untuk dicermati adalah, tentang isi dan informasi berita. Meski semua berita yang ada menyebutkan bahwa aksi yang dilakukan KAJS ini adalah untuk meminta agar RUU BPJS segera disahkan, namun Kompas.com tidak menyebutkan informasi yang terperinci tentang pentingnya UU BPJS.

Mediaindonedia.com

  • Ratusan Pendemo Tuntut Pengesahan RUU BPJS (Kamis, 06 Oktober 2011 jam 14:03 WIB ). Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, teatrikal, telanjang dada, macet.

  • Tidur Bertelanjang Dada, Demonstran Berunjuk Rasa di BEI. Kata kunci: KAJS, RUU BPJS, telanjang dada, jalan ditutup.

Analisa:

Meski hanya menemukan 2 berita di Mediaindonesia.com, saya cukup puas dengan pemberitaan media yang satu ini. Setidaknya, ia sama sekali tidak menonjolkan kericuhan yang sempat terjadi. Sebaliknya, ia memberikan perhatian yang cukup besar terhadap aksi teatrikal/simpatik yang dilakukan oleh KAJS.  Mediaindonesia.com memang menyebut bahwa aksi ini menyebabkan kemacetan, namun secara berimbang juga memberitakan bahwa unjuk rasa yang digelas pada hari itu adalah untuk mendukung RUU BPJS.

Jika dikemas dengan baik, teatrikal yang ditampilkan dalam sebuah aksi, saya kira bisa memperkuat pesan yang hendak kita sampaikan. Masyarakat juga tidak lagi anti terhadap sebuah demonstrasi, sebab ia bisa dikelola dengan simpatik.

TempoInteraktif

  • Massa FSPMI terlibat Adu Jotos dengan Polisi. (Kamis, 06 Oktober 2011, jam 11:39 WIB). Kata kunci: FSPMI, RUU BPJS, bentrokan, adu jotos, macet. 

Analisa:

Saya sampai pada kesimpulan, pemberitaan di TempoInteraktif ini hendak memberitakan tentang sebuah bentrokan atau adu jotos yang terjadi, saat sebuah aksi unjuk rasa berlangsung. Meski menyebutkan aksi dilakukan untuk mendukung RUU BPJS, namun itu tidak lebih sebagai selingan. Judulnya saja sudah sangat provokatif, ”Massa FSPMI terlibat Adu Jotos dengan Polisi.”

AntaraNews

  • Ratusan pekerja demo BEI Jakarta. Kata kunci: RUU BPJS, KAJS, macet.

TribunNews

  • Ribuan Buruh Sesaki Jalan di Depan Gedung BEI. (Kamis, 6 Oktober 2011 jam 11:14 WIB). Kata kunci: KAJS, macet

Inilah.Com

  • Ratusan Demonstran Datangi Kantor Kemenkeu (Kamis, 6 Oktober 2011 jam 15:39 WIB). Kata kunci: KAJS, Sahkan RUU BPJS, jaminan sosial

Analisa:

Tiga media online terakhir, saya kira hanya sebagai pembanding. Boleh dikata, beritanya biasa-biasa saja. Aksi KAJS untuk meminta segera disahkannya RUU BPJS. Yang menarik, ketiganya tidak salah saat menyebut pelaksana aksi, yaitu KAJS. Satu hal, yang kemudian membuat saya bertanya-tanya, mengapa pemberitaan tentang aksi 6 Oktober yang berbau negatif (macet, ricuh) disebutkan pelaksananya adalah FSPMI?

Catatan Akhir

Dari beberapa analisa di atas, setidaknya ada 5 hal yang bisa kita garis bawahi:

Pertama. Media seringkali salah menilai, bahwa ini adalah aksinya FSPMI. Harus kita tegaskan kembali, bahwa ini adalah aksi yang dilakukan oleh Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS), yang didalamnya terdiri lebih dari 60 elemet. Perjuangan RUU BPJS bukan semata perjuangan FSPMI, tetapi kehendak seluruh rakyat Indonesia, yang tercermin dari beragam organisasi dalam KAJS, seperti serikat buruh, petani, mahasiswa, dsb. Dalam aksi kemarin, kebetulan saja mayoritas peserta aksi berasal dari FSPMI. Tetapi juga jangan salah, kawan-kawan KSPSI, Aspek Indonesia, FSPTSK, OPSI, TURC, dan banyak element yang lain ikut hadir. Saya kira, ini sekaligus menjadi pesan untuk kita semua, agar dalam aksi-aksi selanjutnya element yang lain juga sama optimalnya dengan FSPMI dalam mengerahkan massa aksi.

Kedua. Entah karena kebetulan atau karena apa, dalam dalam pemberitaan tentang adanya kericuhan dan kemacetan, FSPMI/pekerja metal selalu disebut. Sementara tentang RUU BPJS, (beberapa) media bisa dengan tepat mengatakan ini adalah aksi KAJS. Yang paling kontras adalah pemberitaan di SCTV. Saat menayangkan berita yang berjudul ’Massa Gelar Demo BPJS di Gedung BEI’, disebutkan aksi dilakukan oleh KAJS. Namun dalam berita tentang ’Demo BPJS Berlangsung Ricuh’, disebutkan pelaksana aksi adalah FSPMI. Hal yang sama juga kita temui di pemberitaan Vivanews. Detiknews, malah hampir semua menyebutkan kemacetan-kamacetan dan bentrokan yang terjadi akibat aksi yang dilakukan pekerja metal.  Meski hanya 1 berita yang ditulis, TempoInteraktif dengan sadis menulis, ’Massa FSPMI terlibat Adu Jotos dengan Polisi.’

Saya menduga, media sengaja menyudutkan posisi FSPMI (membuat stigma negatif), sebagai organisasi yang secara konsisten memperjuangan BPJS. Mudah-mudahan dugaan saya tergesa-gesa dan salah. Jika pun itu benar, saya berharap kita tidak terlambat untuk menyadarinya….

Ketiga. Aksi-aksi simpatik seperti teatrikal dan juga ’telanjang dada’, saya kira cukup efektif mencuri perhatian media massa. Vivanews bahkan secara khusus memuat foto-foto teatrikal. Beberapa media juga menjadikan foto aksi tidur sambil bertelanjang dada sebagai ilustrasi dalam berita yang mereka turunkan.

Keempat. Mayoritas media tidak memberikan informasi yang akurat terkait dengan aksi yang kita lakukan. Beberapa justru mencitrakan aksi ini anarkis, seperti mengeksplor kemacetan dan kericuhan yang terjadi, namun tidak menyampaikan secara akurat tentang tujuan aksi dari itu sendiri.  Mungkin kita perlu menyiapkan sebuah Pers Release yang baik dalam aksi-aksi yang dilakukan oleh KAJS. Sehingga media bisa dengan akurat menyampai informasi/sasaran aksi.

Kelima. Terkait dengan media yang terus-menerus mencitrakan negatif perjuangan KAJS, mungkin kita bisa mempertimbangkan untuk mengadakan diskusi/anjangsana dengan pimpinan redaksi media yang bersangkutan. Atau jika dipandang perlu, cukup dengan memberikan surat klarifikasi..

Sebuah Catatan: Kahar S. Cahyono
Seorang warga negara, yang merindukan negeri ini memiliki jaminan sosial dalam waktu tidak lama lagi

Sumber: http://www.facebook.com/notes/kahar-s-cahyono/analisa-media-setengah-hati-mendukung-ruu-bpjs/10150344834498411 


Post by. NDP

One Comment
  1. ‎Kahar S. Cahyono: analisa media yg bagus kawan. dan memang kenyataan yang pahit saat Media kurang berpihak terhadap pemberitaan yg harusnya merupakan isu nasional. Jika mau jujur apakah jaminan sosial hanya utk buruh,,,>>??? apakah kawan2 media tidak merasakan-nya nantinya; lebih jauh lagi redaktur atau bahkan pimpinan redaksi apakah juga tidak merasakan-nya kelak; bahkan sampai yg empunya media-pun pasti turut merasakannya. dan harusnya berpihak terhadap perjuangan jaminan sosial; minimal dukungan pemberitaan. tak jarang pula banyak dugaan juga ada media yg malah beritanya kontra terus (dalam artian pemberitaan-nya selalu memberitakan aksi yg kontra bpjs atau dengan kata lain memberitakan propaganda2 yg anti bpjs). Lebih jauh lagi, memang di media cetak, beberapa media seperti Media Indonesia; rakyat Merdeka; Koran jakarta; M2 media; dll memberitakan; namun tidak sedikit juga yg memberitakan atau hanya menampilkan foto aksi dan beberapa bait tulisan. Sangat disayangkan bahwa seperti tulisan bung Kahar, Kompas Cetak tidak memberitakan-nya. Padahal nyata2 wartawan nasional Kompas yg termasuk senior ada di lapangan dan ikut meliputnya. Apakah hanya di OL saja pemberitaan itu. apa aksi ini tidak merupakan isu nasional…??? Padahal Kompas beberapa minggu terakhir selalu meliput Kegiatan2 JAMSOSTEK di daerah. bahkan berturut2. Kenapa isu BPJS pada aksi 6 okt 2011 tak menjadi perhatian khusus…??? benar kata anda, semoga analisa sementara yg menurut kita terburu2 menganalisa. Semoga juga tidak ada dugaan2 yg tdk baik atas semua ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: