Skip to content

Balada buruh pabrik ( 5 ) Apa salah kami di FSPMI…..???

October 9, 2011
Pukul 19.00 lewat beberapa menit, ketika saya sampai di PT. C. Perusahaan Modal Asing yang berlokasi di Ngoro, Mojokerto. Puluhan orang bergerombol di depan pintu gerbang perusahaan. Mereka adalah pekerja PT. C, yang dimutasi dari bagian yang satu dengan bagian yang lain dan yang sedang di PHK sepihak walau kontrak belum habis, hanya karena membentuk Serikat Pekerja.

Melihat kehadiran saya, mereka menyambut dengan senyum sumringah. Dan sedetik kemudian, kami sudah larut dalam jabat tangan erat nan hangat. Ya, buat saya, selalu ada sisi personal yang meninggalkan kesan mendalam saat bertemu dengan teman-teman yang tergabung dalam serikat pekerja. Bisa jadi, suasana seperti ini, tidak pernah akan bisa saya jumpai jika saya tidak menjadi anggota serikat pekerja.

Tanpa serikat pekerja, saya merasa hanya sebagai individu, dan semata-mata sebagai buruh. Tak banyak jejak yang bisa ditorehkan: Rumah, tempat kerja, gajian, dan kantong kering ketika tanggung bulan. Jauh perasaan empati kepada sesama pekerja, juga perasaan bahwa saya tidak sendiri.

Hari itu, jam 09.00, memang ada agenda perundingan bipartit antara pengusaha dan pekerja terkait dengan perselisihan hubungan industrial yang terjadi. Saya, bersama 3 kawan lain dari KC Mojokerto dan DPW FSPMI Jatim, hadir untuk mendampingi teman-teman PT. C. Ya, kawan-kawan ini memang menjadi anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), yang tergabung di sektor Serikat Pekerja Elektronik Electric (SPEE).

Sambil menunggu dipanggil manajemen untuk berunding, di dalam warung pinggir jalan, teman-teman banyak bercerita tentang kondisi kerja di PT. C. Tentang upah yang tidak beranjak dari nilai UMK, meski mereka sudah mengabdi hingga 9 tahun lamanya. Ada banyak hal lain, namun, yang selalu menarik perhatian saya, adalah tentang indikasi pelanggaran kebebasan berserikat yang dilakukan oleh pengusaha.

Dugaan sikap anti serikat itu terlihat, dengan mutasi yang ditujukan kepada pengurus dari seorang SPV ke Operator  dan Pemutusan hubungan kerja yang belum waktunya . Padahal, jelas-jelas ke- 52 orang itu seluruhnya adalah pekerja yang mendirikan serikat pekerja di PT. C.

Tentu saja, para pekerja menolak mutasi dan pemutusan kontrak sepihak tersebut tersebut. Ke-52 kawan-kawan ini berpendapat, bahwa apa yang dilakukan oleh PT. C adalah bentuk menghalang-halangi pembentukan serikat buruh, sebagaimana yang dinyatakan dalam pasal 28 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

Belum lagi, mereka mendapatkan informasi, perusahaan kekuranga pegawai di sektor lini managerial dan Operator pengerjaan barang karena banyak sekali order yang datang dari customer. Ini diperkuat dengan fenomena di PT. C sendiri, dimana manajemen selalu menggunakan dalih mutasi sebagai bentuk ‘hukuman’ bagi pekerja/buruh yang memiliki kesalahan. Dengan harapan mereka akan mengundurkan diri, karena tidak bersedia dimutasi dari pekerjaan awalnya.

Entahlah, sampai kapan kita mesti mengulangi-ulang, bahwa “Siapapun dilarang menghalang-halangi atau memaksa pekerja/buruh untuk membentuk atau tidak membentuk, menjadi pengurus atau tidak menjadi pengurus, menjadi anggota atau tidak menjadi anggota dan/atau menjalankan atau tidak menjalankan kegiatan serikat pekerja/serikat buruh dengan cara: (a) Melakukan pemutusan hubungan kerja, memberhentikan sementara, menurunkan jabatan, atau melakukan mutasi; (b) tidak membayar atau mengurangi upah pekerja/buruh; (c) melakukan intimidasi dalam bentuk apapun; (d) melakukan kampanye anti pembentukan serikat pekerja/serikat buruh.” Bahwa mereka yang melanggar ketentuan ini, sudah disediakan hukuman kurungan paling sedikit 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun, atau dengan 100 juta hingga 500 juta.
Buat saya, sikap kawan-kawan PT. C dengan menolak mutasi dan pemutusan kontrak sepihak sudah tepat. Ini adalah bentuk union busting, dan karenanya menjadi sah bagi serikat pekerja untuk melawan hingga titik yang penghabisan.

Pengusaha PT. C sengaja mengalihkan isu pemberangusahan serikat buruh, dengan menyatakan bahwa mutasi adalah hak perusahaan, dan sudah dilaksanakan sesuai dengan PKB. Hanya, memang, argumen nampaknya juga sengaja dipaksakan. Mengingat PKB yang dibentuk sudah lama tidak berlaku.
Dalam konteks itu, dalam pernyataannya, Ketua DPW FSPMI JATIM Pudjianto, SH meminta agar mutasi dan pemutusan kontrak yang dilakukan PT. C terhadap ke-52 pekerja harus dibatalkan. Mengembalikan ke-52 karyawan ke tempat semula, dengan tanpa mengurangi hak-haknya. Satu hal yang juga perlu digaris bawahi, pengusaha harus menghormati keberadaan serikat pekerja, dan tidak lagi melakukan intimidasi dalam bentuk apapun.

Cerita singkat tentang gambaran sesungguhnya betapa kersanya perjuangan kami,betapa nistanya jalan juang kami di hadapan para pemangku kepentingan.Dimana pemerintah melihat posis seperti ini…Mereka terdiam lidahnya kelu tidak dapat berucap karena uang sudah membungkam kebenaran…
Wahai para Mujahid perjuangan apakah kita akan diam..ataukah kita akan terus melawan..hari ini mungkin mereka yang di berangus..Besok tidak muncul kemungkinan kita yang akan di berangus juga..Ap salah kami di FSPMI….Hanya allah dan hatimu yang bisa menjawab….

 
Para Mujahid perjuangan

Sumber: catatan Ardian Fspmi mojokerto
http://www.facebook.com/notes/ardian-fspmi/balada-buruh-pabrik-5-apa-salah-kami-di-fspmi/261192130591573

 Post by. NDP 10112011

From → Inspirasi

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: