Skip to content

Pernyataan Sikap Buruh PT. Gimmil Industrial Bintan

September 13, 2011

PERNYATAAN SIKAP BURUH PT. GIMMIL INDUSTRIAL BINTAN
Enam puluh tahun lebih Indonesia merdeka. Namun selama itu pula sebagian penduduk Indonesia belum bisa merasakan manisnya kemerdekaan karena kemiskinan yang melilit mereka. Bahkan akhir-akhir ini jumlah penduduk miskin semakin meningkat akibat dari kebijakan upah murah, sistem kerja kontrak dan outsourcing, serta kehilangan pekerjaan karena menjadi korban PHK massal. Pemerintah yang sebenarnya berkewajiban meningkatkan kesejahteraan rakyat, justru dalam bidang perburuhan malah berkolaborasi dengan pemilik modal (pengusaha) yang serakah untuk menindas dan merampas hak buruh.
Kabupaten Bintan adalah salah satu basis industri di kawasan Kepulauan Riau di samping Batam dan Karimun. Namun, sejarah industrialisasi di Bintan adalah sejarah kemiskinan dan penindasan buruh. Sudah banyak contoh dan bukti di mana hak-hak buruh untuk mendapatkan pekerjaan dan kesejahteraan telah dirampas sehingga kaum buruh tetap miskin dan tidak mampu hidup secara layak. Sebut saja kasus PHK di Rotarindo, Yoshikawa dan sekarang Gimmil. Ya, dari waktu ke waktu semakin banyak buruh yang menjadi korban PHK massal akibat kekejaman pemilik modal yang berkolaborasi dengan aparat-aparat pemerintahan yang berkhianat terhadap rakyat dan menghamba kepada pemilik modal. Bahkan, ketika buruh menuntut hak yang dirampas pengusaha, justru mendapatkan represi dari aparat keamanan; seperti yang dialami buruh-buruh Gimmil pada hari Sabtu (21/5) kemarin. Sejak pembangunan industri di Bintan dimulai, penduduk Bintan yang menjadi buruh tetap miskin akibat kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat miskin.
Ketidakadilan dan ketertindasan yang dialami buruh adalah akibat lemahnya kebijakan pemerintah untuk melindungi buruh. Pemerintah cenderung melakukan pembiaran-pembiaran terhadap setiap pelanggaran hak-hak buruh oleh pengusaha. Hal ini diperparah adanya manipulasi dan permainan kotor antara oknum aparat dengan pengusaha. Contohnya di PT Gimmil, manajemen kongkalikong dengan oknum aparat pemerintah untuk melakukan manipulasi perusahaan terpaksa berhenti produksi dan tutup karena mengalami kerugian. Padahal tujuan sebenarnya manajemen dengan menutup pabrik adalah  agar bisa mem-PHK buruh dengan pesangon yang sangat rendah, dan kemudian beroperasi lagi dengan memakai sistem kerja kontrak dan outsourcing!
Pembangunan adalah untuk seluruh rakyat, oleh karena itu pembangunan tidak boleh hanya memberikan keuntungan pada segelintir manusia yang mempunyai alat produksi dan modal. Bukan PHK dan pesangon kecil cara untuk meningkatkan kesejahteraan buruh, tapi pekerjaan dengan upah layak! Berdasarkan alasan-alasan di atas, kami segenap buruh PT Gimmil yang tergabung dalam PUK SPAI FSPMI PT.GIMMIL INDUSTRIAL BINTAN menyerukan persatuan semesta kekuatan buruh untuk melawan kekejaman modal dan penindasan buruh oleh negara, serta menuntut:
  1. Tolak kapitalisme!
  2. Tolak PHK massal, sistem kerja kontrak dan outsourcing!
  3. Sita dan lelang aset perusahaan yang menelantarkan hak-hak buruh!
  4. Tindak tegas setiap pelanggaran terhadap hak-hak buruh!
  5. Penjarakan pengusaha yang melanggar hak-hak buruh!
  6. Bersihkan Disnaker dari oknum pembela pengusaha nakal!
  7. Penjarakan oknum aparat yang membela pengusaha nakal dan mempermainkan hukum serta nasib buruh!
Bintan, 22 Mei 2011
PUK SP ANEKA INDUSTRI FSPMI
PT.GIMMIL INDUSTRIAL BINTAN

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: