Skip to content

Outsourching

September 11, 2011
Oleh: Slamet Fitriono
Foto: Slamet Fitriono (Facebook Profile)
Hari ini aku berangkat bekerja. Setelah kemarin aku terbaring sakit. Telah sebulan ini aku bekerja tanpa hari libur. Akhirnya tubuhku menyerah sakit. Sebenarnya hari ini aku merasa badanku belum cukup kuat untuk bekerja. Tapi harus bagaimana lagi, aku cuma buruh outsourching yang harus rajin bekerja. Jika tidak, aku bisa kehilangan pekerjaan yang sudah tujuh tahun menjadi penghasilanku.
Tujuh tahun lalu aku masuk bekerja di perusahaan itu. Setelah lima tahun bekerja, perusahaan menjadikan aku buruh outsourching. Katanya biar perusahaan lebih mampu bersaing dengan perusahaan lain. Aku kira dengan begitu kesejahteraanku akan naik. Ternyata semua salah. Kini aku malah tanpa kepastian masa depanku. Aku ga tahu sampai kapan aku masih tetap bekerja. Aku harus bekerja dua belas jam sehari dan tujuh hari seminggu. Tapi upahku hanya cukup  untuk membeli makan saja. Kontrak rumahpun aku berenam dengan kawan kawan sesame buruh outsourching. Ah… andai rumah itu bisa disebut rumah. Hanya ada satu ruangan tiga kali lima meter. Mandipun harus diluar bersama penghuni kontrakan yang lain. Untuk itulah kenapa aku belum memutuskan menikah.
Oh ya, kapan aku menikah? Sudah lima tahun ini aku berpacaran dengan dina. Bukannya tak ingin menikah, hanya saja aku takut dengan penghasilanku sekarang tak mampu untuk makan kami berdua. Belum lagi jika nanti punya anak. Padahal ayah dina sudah berkali kali menanyakan kapan aku menikahi anaknya. Jangankan untuk biaya menikah, untuk makan sebulanpun pasti kurang. Bagaimana lagi jika ternyata aku dipecat dari pekerjaanku. Tak ada yang melindungiku dari pemecatan. Aku tak berani mendirikan serikat buruh, karena bisa saja aku langsung dipecat.
Ah… hidup ini sungguh tidak adil. Aku bekerja dengan sangat keras. Tapi aku tak menikmati apapun dari pekerjaanku. Aku hanya mendapatkan uang yang tak cukup untuk makan. Apalagi buat kebutuhan lain. Sedang mereka menikmati hasil kerjaku dengan bermewah mewah. Gaji mereka sepuluh kali gajiku sebulan. Aku tak bisa berharap pada mereka, karena mereka sudah merasa enak dengan fasilitas yang diberikan perusahaan. Bahkan saat bekerjapun mereka bisa sambil tidur tiduran. Berbeda dengan aku yang terkadang saat istirahatpun masih bekerja mengejar target.
Oh… ternyata aku sudah sampai di pabrik. Pabrik tiap tahun semakin luas  pabriknya. Semakin banyak mesinnya. Katanya semakin maju, tapi gajiku tidak berubah.  Kumasuki pintu pabrik.  Di tempat absen aku bertemu pak husin, rekanku bekerja di bagian yang sama.
“Sudah sehat” Tanya pak Husin.
“Sebenarnya masih agak sakit, tapi mau gimana lagi. Aku harus tetap bekerja” Jawabku.
“Kemarin pak herman bilang, kau disuruh menghadap kalau masuk kerja” lanjutnya.
“ iya..” jawabku singkat.
Dipanggil… Ada apakah aku dipanggil pak herman. Apa karena aku ga masuk kerja kemarin. Atau ada sesuatu yang lain.
Kulangkahkan kaki ke ruang pak Herman. Atasanku sejak dulu dari aku mulai bekerja. Yah… telah tujuh tahun aku menjadi anak buahnya. Dan selama itu pula aku selalu menjalankan tugas tugas darinya. Tanpa berani membantah sedikitpun.
Tok… tok… tok… Ku ketuk pintu didepanku.
“Masuk” suara pak Herman dari dalam.
“Selamat pagi pak” Ucapku setelah kumasuki ruang berAC dan berbau harum ini.
“Duduk…” Katanya.
“Kenapa kamu kemarin ga masuk bekerja” lanjutnya setelah aku duduk.
“Saya sakit pak”
“Kalau sakit, mana ijin dokternya?”
“Maaf pak, saya hanya istirahat dirumah. Saya tak mampu untuk ke dokter. Saya tak punya uang. Saya hanya mampu membeli obat warung. Sekarangpun badan saya masih terasa dingin dan kepala pusing” Jawabku panjang.
“Ah.. alasan kamu saja. Kamu sudah malas bekerja disini?” Tanya pak herman kemudian
“Tidak pak, saya masih ingin bekerja disini. Dan saya memang benar benar sakit”
“Kalau memang kamu sakit, kamu harus pakai surat ijin dokter. Kamu ga bisa nunjukin” Jawab dia agak keras. “Sekarang kamu kembali bekerja, nanti kalau aku panggil kamu kemari” Lanjutnya.
“Baik pak, terima kasih”
Aku berdiri dan berlalu dari ruangannya. Bermacam pikiran mendera otakku. Entah apa yang terjadi? 
Bagaimana jika aku dipecat? Suatu hal yang sangat aku takutkan. Padahal aku sudah janji pada ayahnya dina akan menikahi anaknya tahun depan. Ah… entahlah, semua itu malah membuat kepalaku semakin pusing. Lalu semua menjadi gelap.
 ****
“To… Bangun to” lirih kudengar suara pak Tarno, Office boy tempatku bekerja. Bau minyak kayu putih memenuhi ruang dalam lubang hidungku.
“Bangun to…” lanjutnya.
Perlahan lahan kubuka mataku. Kulihat wajah pak Tarno didepanku.
“Saya dimana ini pak, saya kenapa?” Tanyaku pada pak Tarno.
“Kau di musholla to, tadi kamu jatuh pingsan didepan ruang pak Herman” Jawab pak Tarno.
Ah.. Pak Herman. Iya, pak Herman. Aku tadi dari ruangannya. Aku kembali teringat tentang semua yg terjadi diruangan pak Herman tadi. Mungkinkah..? Kembali aku terjebak pada ketakutan ketakutan bila aku di pecat.
“Jam berapa pak?” Tanyaku pada pak Tarno setelah aku duduk.
“Jam setengah Sembilan lebih sepuluh mas” Jawab pak Tarno setelah melihat jam yang menempel didinding mushola. Rupanya hampir setengah jam aku pingsan tadi. Aku harus bekerja, ya aku harus bekerja. Aku ga boleh berlama lama disini. Nanti pak Herman bisa lebih marah lagi jika tahu aku sudah siuman dan masih ada disini.
“Terima kasih pak Tarno, saya harus segera bekerja lagi.  Kemarin saya sudah tidak masuk. Jika tidak, saya bisa dipecat nantinya” Ku ucap terima kasih pada pak Tarno sambil mencoba berdiri.
“Tapi wajahmu masih pucat to” Jawab pak Tarno.
“Biarlah pak, daripada saya dimarahi pak Herman”
Akupun berlalu meninggalkan mushola kecil itu menuju tempatku bekerja. Sampai disana kulihat pak Herman sedang memeriksa barang barang hasil kerja yang mau dikirim ke bagian selanjutnya. Kuhampiri pak Herman.
“Permisi pak”
“Kamu to, Kamu ga usah bekerja hari ini. tunggu saya diruangan. Nanti saya menyusul kesana” Kata pak Herman.
“Terima kasih pak” Kataku sambil berlalu menuju ruangan pak Herman.
Entah apa lagi yang akan dikatakannya kali ini. Apakah aku akan…. Ah sudahlah. Terserahlah, apapun yang akan terjadi padaku hari ini. Kumasuki ruangan itu dan kembali kududuk di kursi yang belum satu jam lalu aku duduki. Aku termenung dengan semua gejolak dalam otakku.
Telah tiga puluh menit aku duduk dikursi ini. Tapi pak Herman belum juga datang. Apakah aku disuruh istirahat dulu ataukah ada sesuatu yang mau dibicarakan denganku.
Pintu terbuka dan kulihat pak Herman masuk ruangan dengan membawa amplop coklat. Amplop yang biasa kuterima saat gajian.
“Lama ya nunggunya, tadi aku ke kantor personalia dulu” Kata pak Herman.
“Begini to, tadi aku ke personalia. Karena kamu kemarin ga masuk kerja dang a bisa nunjukin surat ijin dokter, kata personalia, mulai hari ini kamu tidak usah bekerja lagi. Dan ini gajimu selama seminggu ini” Lanjutnya sambil menyodorkan amplop coklat tersebut.
Ah… dipecat. Hal yang aku takutkan itu terjadi. Mulutku menjadi terkunci. Leherku seolah tercekat dan lidahku keluntak mampu untuk berkata kata lagi.
“Maaf to, aku ga bisa nolongin kamu didepan personalia. Kamu yang sabar ya.. Kamu bisa cari pekerjaan lain diluar sana”
Mencari pekerjaan, adikku saja sudah dua tahun tak mendapat pekerjaan. Kini aku harus dipecat hanya gara gara sakit sehari. Beginilah nasib buruh outsourching yang tak punya masa depan. Tak punya kekuatan dan hanya mampu menjadi robot pabrik yang harus bekerja tanpa mengenal lelah. Bahkan untuk memutuskan menikahpun aku tak berani. Kini malah aku harus dipecat.
“Terima kasih pak” Kujawab singkat sambil berlalu meninggalkan ruangan itu. Ruang terkutuk yang menghancurkan masa depanku.
Dengan gontai kulangkahkan kali keluar pabrik. Tempat dimana selama tujuh tahun ini aku menghabiskan seluruh hidupku untuk membesarkannya. Pabrik yang semula hanya seluas lima ratus meter hingga kini menjadi lima hektar. Betapa selama ini pula keringatku selalu tertumpah untuknya. Namun kini, dengan mudahnya mereka memecatku. Menendang dan membuangku bagai sampah busuk.
Bangsattt…. Aku merutuk dalam hati. Kini aku tak punya pekerjaan. Bagaimana lagi aku harus hidup. Bagaimana aku bisa menikahi dina. Yah… bagaimana dengan ayahnya dina. Bukankah aku sudah berjanji menikahi anaknya tahun depan. Bukankah telah lima tahun berpacaran dengannya. Bukankah pula ayahnya telah mengancam akan menikahkan dina dengan orang lain jika aku tak menikahinya tahun depan. Bagaimana pula aku harus membiayai pernikahan itu. Apa yang harus kulakukan. Mencari pekerjaan? Betapa sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Sedang usiaku sudah hampir tiga puluh tahun. Kebanyakan perusahaan hanya mau memakai buruh yang lebih muda. Lalu, aku harus ngapain? Berdagang. Dengan modal apa. Gajiku selama ini selalu habis ditengah bulan. Padahal hanya untuk makan dan bayar kontrakan.
Perlahan kubuka pintu kontrakan. Sepi, yah sepi sebagaimana kemarin aku terbujur sakit dipojokan itu. Sepi yang tiap hari selalu terjadi dikamar ini. Kuterduduk memikirkan apa yang terjadi seharian ini.
Gaji, aku teringat amplop coklat itu. Perlahan kubuka. Hanya ada dua lembar seratus ribuan. Yahhh… itu gajiku seminggu ini. Buat apa uang dua ratus ribu ini. Belum lagi kemarin Yu Tini sudah menagih hutangku. Ya… Yu Tini, warung tempat aku ngutang makan selama ini. Dengan apa aku harus makan jika uang ini kubayarkan ke Yu Tini. Itupun masih kurang. Lalu, aku harus ngomong apa pada dina bila aku dipecat seperti ini.
Ah… Dina, gadis pujaanku itu. Kembali aku teringat padanya. Gadis cantik itu. Mampukah aku memilikinya. Mampukah aku menikahinya bila aku dipecat. Kenapa Tuhan tak adil dengan hidup ini. Kenapa takdirku masuk bekerja tidak satu atau dua tahun sebelum aku masuk. Agar aku bisa menjadi buruh tetap dan tidak tersia siakan. Agar aku bisa seperti mereka. Bisa seperti pak Herman, Pak Budi, Pak Daris yang mendapat banyak fasilitas dari perusahaan. Kenapa…. Kenapa… aku diciptakan jadi buruh yang tak ada kepastian masa depan. Kenapa aku dilahirkan dari rahim orang miskin. Kenapa aku lahir saat hidup penuh ketidak adilan. Bagaimana aku menjalani hidup setelah ini.
Kuberdiri, pikiranku kacau tentang hari depan. Kuambil kursi tempat aku biasa duduk didepan rumah. Kuraih kayu yang melintang dilangit langit rumah ini. Kupasang ikat pinggang dan kulingkarkan ke leherku. Kutendang kursi itu. Leherku tercekat. Panas. Semakin panas. Sesak. bergetar tubuhku, Kemudian gelap…. Semuanya gelap…
Buruh outsourching, buruh tanpa kepastian masa depan. Demi meningkatkan daya saing perusahaan, system kerja buruh dirubah dari buruh tetap menjadi buruh kontrak/outsourching. Karena tanpa kepastian itulah, pada akhirnya buruh kontrak/outsourching menjadi korban kesewenang wenangan pengusaha. Upah dibayar murah. Bahkan tak jarang jauh dibawah upah minimum. Belum lagi hak terhadap jaminan kesehatan yang sering tidak diberikan. Hingga akhirnya mereka menjadi gamang dalam menjadi hidupnya. Bahkan untuk menikahpun mereka tak berani. Fleksibilitas dalam sistem outsourching dan kontrak membuat mereka kapanpun bisa diPHK tanpa mendapat pesangon. Ketakutan terPHK itulah yang membuat mereka rela bekerja tanpa henti dan rela dibayar berapapun asal tetap bekerja.Posisi sebagai buruh yayasan pulalah yang membuat mereka tak berani berserikat. Bagi mereka, berserikat sama halnya menyongsong kematian. Kecuali bagi orang orang yang telah nekad menanggung segala resiko tersebut. Padahal UU sudah mengatur kebebasan. Namun karena posisi buruh outsourching bukan sebagai buruh user/pabrik tempat mereka bekerja. Maka sangat rentan  bagi mereka kehilangan pekerjaan. Sebab dengan seketika pula perusahaan user mengganti buruh outsourching dengan buruh dari penyalur lain. Jika itu terjadi, maka kiamatlah buruh tersebut.

From → Suara Buruh

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: